Dr. Erwin Mahrus dan Yayasan Pusaka Dunia Melayu Menghidupkan Kembali Tradisi Manuskrip Borneo
PONTIANAK – Di tengah arus modernitas yang kian deras, upaya menjaga warisan intelektual lokal kembali ditegaskan melalui Workshop Literasi Membaca Manuskrip Borneo Batch 1 yang digelar pada 21–25 April 2026 di IAIN Pontianak. Kegiatan ini menjadi moment penting bagi Yayasan Pusaka Dunia Melayu dalam meneguhkan komitmennya terhadap pelestarian khazanah manuskrip Melayu, khususnya tradisi aksara Arab Melayu di Borneo.
Sebagai inisiator utama, Erwin Mahrus yang juga sebagai sekretaris LPM, tampil bukan hanya sebagai narasumber, tetapi juga sebagai figur penggerak yang menghubungkan masa lalu dengan generasi masa kini. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Yayasan Pusaka Dunia Melayu, Dr. Erwin menghadirkan pendekatan yang tidak sekadar akademik, tetapi juga penuh kesadaran kultural. Ia menempatkan manuskrip sebagai warisan hidup yang perlu dibaca, dipahami, dan dirawat secara berkelanjutan.
Selama lima hari dengan total 30 jam pelajaran, sebanyak 35 mahasiswa dari kabupaten/kota di Kalimantan Barat mengikuti workshop ini dengan antusias. Di bawah bimbingan langsung Dr. Erwin, peserta diajak menapaki proses literasi secara bertahap—mulai dari memahami histori Arab Melayu, mengenali huruf dan huruf saksi (vokal), hingga praktik menulis dua dan tiga suku kata. Puncaknya, peserta dilatih membaca ejaan tradisi dan mengakses manuskrip karya ulama Borneo, sebuah capaian yang tidak mudah namun sarat makna.
Gaya penyampaian Dr. Erwin yang tenang, reflektif, dan mendalam menjadi daya tarik tersendiri. Ia tidak hanya mengajarkan “cara membaca”, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap manuskrip menyimpan jejak pemikiran, nilai, dan identitas masyarakat Melayu masa lalu. Dalam setiap sesi, ia kerap menegaskan bahwa literasi manuskrip adalah bentuk tanggung jawab intelektual terhadap sejarah sendiri.
Peran Yayasan Pusaka Dunia Melayu dalam kegiatan ini terlihat sangat strategis. Tidak sekadar sebagai penyelenggara, yayasan ini tampil sebagai institusi yang secara konsisten membangun ekosistem pelestarian manuskrip-mulai dari inventarisasi, dokumentasi, hingga edukasi publik. Workshop ini menjadi salah satu bentuk konkret dari visi besar yayasan dalam menghidupkan kembali tradisi literasi Arab Melayu di tengah generasi muda.
Atmosfer kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat belajar. Interaksi antara narasumber dan peserta berjalan dinamis, menciptakan ruang dialog yang produktif. Di akhir kegiatan, tidak hanya keterampilan teknis yang diperoleh peserta, tetapi juga tumbuhnya kesadaran baru akan pentingnya menjaga warisan intelektual daerah.
Melalui Erwin Mahrus dan dedikasi Yayasan Pusaka Dunia Melayu, workshop ini menegaskan bahwa manuskrip Borneo bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang relevan untuk masa kini dan masa depan. Sebuah langkah kecil, namun berarti, dalam merawat ingatan dan jati diri budaya Melayu di tanah Borneo.
Penulis: Mala K.W.
Editor: Ajeng V.V. & Ibnu Q.R.


