Ketua LPM IAIN Pontianak Jadi Narasumber Workshop Roadmap Penelitian Prodi Pendidikan Sejarah UNTAN
PONTIANAK – Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Prof. Dr. Erwin, S.Ag., M.Ag., menjadi narasumber dalam Workshop Roadmap Penelitian dan Payung Penelitian Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat arah penelitian sekaligus membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan lembaga kebudayaan di Kalimantan Barat.
Workshop tersebut dilaksanakan pada Rabu (30/9/2026) di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNTAN. Kegiatan ini mengacu pada Surat Undangan Nomor 780/FKIP.3.1/KM/2026 yang diterbitkan pada 21 September 2026.
Kegiatan diikuti sekitar 70 peserta yang berasal dari berbagai unsur, meliputi Museum Provinsi Kalimantan Barat, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, guru sejarah dari SMA dan Madrasah Aliyah se-Kota Pontianak, dosen tetap Program Studi Pendidikan Sejarah, serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UNTAN. Materi disampaikan melalui presentasi dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya jawab.
Dalam pemaparannya, Prof. Erwin mengangkat materi mengenai “Tiga Payung Membentuk Satu Rantai Epistemik”. Konsep tersebut menggambarkan keterkaitan antara penelitian sejarah, pengembangan pengetahuan, pemanfaatan sumber, pembelajaran, pedagogi, hingga penguatan literasi dan kesadaran sejarah.


Rantai epistemik tersebut dimulai dari kegiatan meneliti masa lalu yang menghasilkan pengetahuan dan sumber pembelajaran. Sumber tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan proses belajar dan pedagogi, yang selanjutnya diuji melalui penguatan literasi serta kesadaran peserta didik terhadap sejarah dan lingkungan sosial-budayanya.
Salah satu fokus yang ditawarkan dalam workshop adalah Pengembangan Pembelajaran Sejarah Berbasis Sumber Sejarah Lokal Kalimantan Barat. Pengembangannya dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi dan klasifikasi sumber sejarah lokal, analisis interpretasi siswa, pengembangan bahan ajar, pengembangan media digital, serta pengembangan asesmen.
Menurut Prof. Erwin, pemanfaatan sumber sejarah lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat pembelajaran sejarah agar lebih kontekstual. Kekayaan sejarah dan kebudayaan Kalimantan Barat dapat menjadi sumber penelitian sekaligus bahan pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa dan peserta didik memahami sejarah melalui lingkungan sosial dan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan masukan dari peserta. Vina, salah seorang guru, menyampaikan pertanyaan mengenai regulasi penelitian bagi guru. Ia juga menyoroti pentingnya umpan balik dari penelitian mahasiswa yang dilakukan di sekolah. Menurutnya, mahasiswa UNTAN yang melakukan penelitian di SMA 10 Pontianak sebaiknya memberikan hasil penelitian kepada pihak sekolah agar dapat dimanfaatkan sebagai referensi.
Timur Triyono dari Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat menyarankan agar mahasiswa mengembangkan penelitian mengenai objek pemajuan kebudayaan yang dapat menjadi dasar penyusunan naskah akademik pengusulan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Sementara itu, Any Rahmayani dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat mendorong pengembangan potensi penelitian terhadap berbagai ritus dan tradisi yang terdapat di Kalimantan Barat.
Dari kalangan mahasiswa, Melda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UNTAN, meminta masukan terkait rencana penelitian mengenai budaya Tionghoa di Singkawang. Sementara itu, Diah, seorang guru, mengusulkan agar guru dapat dilibatkan sebagai kolaborator dalam penelitian yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa.
Masukan lainnya disampaikan Galuh, Guru Sejarah dari SMA Al-Fityan Kubu Raya. Ia merefleksikan bahwa setelah mengikuti paparan, terdapat banyak objek di lingkungan sekitar yang dapat dikembangkan menjadi tema penelitian sejarah. Salah satunya berkaitan dengan lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi persoalan berulang di Kalimantan Barat.
Berbagai tanggapan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan roadmap dan payung penelitian Program Studi Pendidikan Sejarah dapat diarahkan pada isu-isu yang dekat dengan masyarakat serta memiliki nilai akademik, pendidikan, dan kebudayaan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, guru, lembaga kebudayaan, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pendidikan dan pelestarian sejarah serta budaya lokal Kalimantan Barat.
Penulis: Mala K.W.
Editor: Ajeng V.V. & Ibnu Q.R.


