Berita,  Kegiatan/Event

DR. SYAMSUL KURNIAWAN PAPARKAN GAGASAN UIN KHATULISTIWA BERBASIS FILOSOFI KHATULISTIWA MEMANDU ILMU

Dr. Syamsul Kurniawan Paparkan Gagasan UIN Khatulistiwa Berbasis Filosofi Khatulistiwa Memandu Ilmu

PONTIANAK – Usulan ketiga, UIN Khatulistiwa, dipaparkan oleh Dr. Syamsul Kurniawan, M.S.I. Berdasarkan materi PowerPoint yang dipaparkan oleh Dr. Syamsul Kurniawan, S.Th.I., M.S.I. mengenai Pengusulan Nama UIN, terdapat beberapa poin utama yang menjadi dasar pertimbangan pengusulan nama UIN Khatulistiwa, yaitu:

1. Khatulistiwa sebagai Identitas dan Arah Keilmuan: Nama Khatulistiwa dinilai memiliki kekuatan sebagai identitas geografis sekaligus simbol visi akademik universitas. Pontianak yang dilalui garis khatulistiwa memiliki karakter khas yang dapat menjadi acuan pengembangan universitas berwawasan global, tanpa meninggalkan identitas lokal.

2. Alasan Memilih Nama Khatulistiwa: Terdapat lima pertimbangan utama, yaitu berangkat dari fakta geografis Pontianak, tidak terikat pada figur tokoh atau kelompok etnis tertentu, merepresentasikan moderasi dan keseimbangan, membuka ruang akademik multikultural, serta memiliki kesinambungan dengan paradigma keilmuan Khatulistiwa Memandu Ilmu.

3. Pertimbangan Kritis Penamaan: Pengusulan nama universitas perlu dikaji secara hati-hati melalui lima aspek, yakni keterwakilan seluruh kelompok masyarakat, ketahanan makna nama dalam perubahan zaman, kemampuan membangun identitas keilmuan yang khas, keterbacaan lintas budaya dan generasi, serta kesesuaiannya dengan visi dan perjalanan kelembagaan kampus.

4. Kelebihan dan Kekurangan Penamaan Berdasarkan Tokoh Lokal: Penamaan berdasarkan figur tokoh lokal memiliki kelebihan dalam merawat sejarah, menghadirkan keteladanan, dan memperkuat kedekatan kampus dengan masyarakat. Namun, pendekatan tersebut juga berpotensi menimbulkan persoalan keterwakilan, perbedaan penafsiran sejarah, dominasi identitas kelompok tertentu, serta ketergantungan identitas universitas pada biografi seorang tokoh.

5. Perbandingan Nama Pontianak dan Khatulistiwa: Nama Pontianak memiliki keunggulan dari sisi kesinambungan sejarah dan kedekatan dengan masyarakat lokal. Sementara itu, Khatulistiwa dinilai lebih universal, memiliki potensi sebagai filosofi keilmuan, dapat mendorong pengembangan studi ekuatorial, dan memberikan identitas akademik yang lebih khas.

6. Filosofi Khatulistiwa Memandu Ilmu: Konsep ini menempatkan integrasi ilmu sebagai landasan pengembangan universitas dengan memadukan wahyu, akal, dan realitas. Paradigma tersebut mengedepankan keseimbangan antara nilai dan fakta, tradisi dan inovasi, spiritualitas dan rasionalitas, serta mengarahkan ilmu pengetahuan pada keadilan, kemaslahatan, dan keberadaban.

7. Makna Lambang UIN Khatulistiwa: Rancangan lambang menggambarkan integrasi identitas lokal dan visi akademik. Unsur bunga matahari melambangkan pertumbuhan dan semangat mencari ilmu, Tugu Khatulistiwa merepresentasikan identitas geografis Pontianak, motif Melayu mencerminkan kearifan budaya, simbol atom menggambarkan keterbukaan terhadap sains dan teknologi, sedangkan warna hijau dan emas melambangkan kehidupan, keberlanjutan, optimisme, dan kemuliaan cita-cita.

Pemaparan ini menawarkan nama UIN Khatulistiwa sebagai pilihan yang dinilai memiliki kekuatan identitas geografis, filosofis, dan akademik. Melalui paradigma Khatulistiwa Memandu Ilmu, universitas diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, sains, teknologi, dan kebudayaan lokal dalam satu kerangka keilmuan yang universal. Usulan ini juga menekankan pentingnya penamaan yang inklusif, tidak terikat pada identitas kelompok tertentu, serta mampu menjadi landasan pengembangan universitas yang berakar pada kearifan lokal dan berorientasi global.

Penulis: Mala K.W.

Editor: Ajeng V.V. & Ibnu Q.R.