Menapaki Jejak Peradaban Islam dan Budaya Melayu, LPM IAIN Pontianak Jelajahi Pulau Penyengat
TANJUNGPINANG – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Pontianak mengunjungi Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, untuk menelusuri jejak sejarah Islam, khazanah intelektual, dan budaya Melayu yang menjadi bagian penting peradaban Nusantara pada hari Kamis, 15 Oktobr 2026.
Pulau Penyengat memiliki kisah unik. Menurut cerita masyarakat, namanya berasal dari pengalaman para pelaut yang singgah mengambil air tawar dan diserang serangga penyengat. Pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin karena dihadiahkan Sultan Mahmud Syah kepada Engku Putri Raja Hamidah sekitar tahun 1803–1805. Selain menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga, pulau ini berperan penting dalam perkembangan bahasa dan sastra Melayu yang menjadi salah satu akar bahasa Indonesia, terutama melalui karya Raja Ali Haji, pencipta Gurindam Dua Belas.



Dalam kunjungan tersebut, rombongan menyambangi Masjid Raya Sultan Riau, bangunan bersejarah yang mulai dibangun pada 1803 dan direnovasi pada 1832. Di dalamnya juga tersimpan Al-Qur’an tulisan tangan karya Abdurrahman Stambul yang diselesaikan pada 1867, menjadi bukti penting tradisi keilmuan dan literasi Islam di Pulau Penyengat.
Rombongan juga mengunjungi Galeri Kutubkhanah Marhum Ahmadi untuk mengenal manuskrip dan warisan intelektual Melayu-Islam, serta kompleks makam Raja Haji Fisabilillah dan Engku Putri Raja Hamidah sebagai situs bersejarah yang merekam peran tokoh penting Kesultanan Riau-Lingga. Perjalanan dilanjutkan ke Balai Adat Indera Perkasa untuk mengenal nilai-nilai adat dan tradisi Melayu yang diwariskan lintas generasi.



Kunjungan ini menjadi ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi LPM IAIN Pontianak. Berbagai peninggalan yang dijumpai memperlihatkan eratnya hubungan antara Islam, ilmu pengetahuan, bahasa, dan adat dalam membentuk peradaban Melayu. Melalui kegiatan ini, LPM IAIN Pontianak diharapkan semakin memperkuat apresiasi terhadap warisan sejarah dan kearifan lokal sebagai sumber inspirasi bagi pengembangan pendidikan, pelestarian budaya, serta penguatan identitas keislaman dan kemelayuan.
Menapaki Pulau Penyengat bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menggali nilai-nilai peradaban untuk diwariskan dan dikembangkan bagi generasi mendatang.
Penulis: Mala K.W.
Editor: Ajeng V.V. & Ibnu Q.R.


